aku marah…
“ya, aku marah” Wina melepas pasmina cokelat tua dari lilitan lehernya.
matanya menerawang.
“Kenapa kamu marah?” tanya Rachel dengan sedikit kerutan di keningnya.
Sore itu matahari seakan tergerus gumpalan awan kelabu. Mendung, Semendung hati Wina.
“Kita ini teman bukan sih?” Ada air mata yang menggenang di kelopak mata Wina sekarang. Lalu ia membuang wajahnya ke Jendela berusaha menyembunyikan lukanya.
“Kenapa tiba-tiba kamu menyangsikan pertemanan kita?” Rachel menarik bahu Wina mencoba mencari sepasang mata bulatnya yang kini tergenang air mata.
“Kamu tahu ayahku sudah 2 bulan masuk rumah sakit?” entah sampai kapan percakapan mereka berisiĀ pertanyaan yang sahut menyahut.
“Aku tidak tahu, kau tidak bilang” jawab Rachel. Akhirnya ada kalimat jawaban di sini.
Kau temanku, kau cari tahu dong! dulu waktu papamu sakit aku sempat membesuknya, berkali-kali malah. Sekarang….tahu Ayahku sakit saja kau tak tahu..aku muak Rachel, muak…kamu egois!
Rachel menangis demi mendengar kata-kata dari sahabatnya. Sahabat yang telah menemaninya lebih dari satu windu.
“Aku benar-benar tidak tahu, maafkan aku” kedua telapak tangannya menutupi hampir seluruh wajah Rachel, ia sedih sekaligus terpukul.
“Kau tahu aku tak minta ditemani kala itu. Kala Papaku terbaring sakit. Apa ada 1 baris kalimatpun yang bilang bahwa aku minta ditemani olehmu? tidak kan” Rachel melolong marah. Ada pembelaan disana.
“Demi Tuhan, Rachel! kau tahu benar membolak-balikan keadaan. Sungguh tak kusangka!” Geram kini Wina, hatinya panas bergejolak. Dikepalkannya kedua tangannya hingga kebas.
“Bukan begitu, mestinya kau bilang saja, Wina..bilang bahwa ayahmu sakit, bahwa kau perlu support dari sahabatmu, aku akan dengan senang hati membantumu” Nada bicara Rachel melembut. tangannya menjulur menghampiri wajah pucat Wina.
Wina cuma menangis tergugu…
Apa ia salah menuntut bukti pertemanannya dengan Rachel sahabatnya selama ini?
Apa Rachel salah bila ia tak mampu membaca pikiran temannya?
Siapa yang egois sebenarnya…