Archive for May, 2007

Ketika Hawa berulah

May 30, 2007
Sore menjelang malam. Udara Jakarta mulai berdamai dengan sekitar. Terminal bus di sebuah kota ramai seperti biasa. Manusia bercampur mesin saling silang. Dagangan bececeran dan debu masih menderu. Aku berlari kecil menghindar dari beberapa bus yang berbelok masuk menuju terminal tanpa menahan laju mereka. Jejeran mobil mungil berwarna merah dengan kapasitas ‘normal’ sepuluh manusia berjejal berhadapan adalah tujuan ku.

Ketika masuk kedalamnya aku bersyukur hanya berisi lima orang termasuk aku. Dua saling berhadapan dipojok belakang, satu di belakang supir dan satu lagi di depan bersebelahan dengan supir. Aku mengambil tempat didekat pintu. Mobil tak lama melaju. Sekilas dari ekor mata saya, pasangan dipojok tadi saling bersentuhan. Aku pertegas lagi naluri alami keingintahuan ku. Mereka berjenis kelamin berbeda. Untunglah lampu temaram mobil menjaga lirikan maut mata ku  dari pasangan itu untuk menyadari mereka bahwa ada yang mendadak menjadi detektif amatiran di sebelah mereka. Sang pria seperti sudah agak berumur. Tangannya sibuk membelai lembut punggung tangan sang wanita di hadapannya sambil berbicara. Sedang yang wanita seperti berkepala tiga. Tangannya terlihat bersandar pada lutut sang pria.

Obrolan mereka lancar mengalir. Diselingi derai tawa dan kadang-kadang jawilan genit dari sang pria. Bahasa tubuh mereka terbaca jika mereka sedang dilanda cinta. Jikapun mereka adalah sepasang saudara, aku mencoba mencari kesamaan dari sana. Tapi tetap saja yang ini terlihat jauh lebih mesra. Dan akhirnya dengan kesimpulan satu pihak aku memutuskan jika mereka adalah sepasang kekasih, atau suami-istri.
Kendaraan yang kami tumpangi melaju deras menembus malam. Sesekali mobil berhenti menepi mencari sewa, kemudian melaju lagi.

Tak lama dering telepon genggam berbunyi. Ternyata milik sang wanita tadi.
“Halo?..iya nak, ibu masih dijalan. Iya pesanan kamu sudah Ibu beliin tadi. Macam-macam, ada nugget, kentang, baso” wanita itu diam sebentar. Terdengar samar suara nyaring dari telepon genggamnya.

“Tapi Ibu sudah dijalan, dan sebentar lagi sampai. Aduh ibu capek sekali nak, besok-kan ibu harus bangun pagi-pagi, kamu tahukan ibu ada meeting ke Surabaya” suaranya mulai gusar.

“Sudah, nanti minta tolong ayah aja!, Udah ya nak, dah mau nyampe nih” Telepon genggam ditutupnya.

“Anakmu?” Tanya sang pria sambil melepas kacamatanya.
“Iya, minta dibelikan pensil warna, Katanya yang dulu sudah pendek-pendek” Wanita itu memasukan telepon genggamnya kedalam sebuah dompet kulit.
“Jadi besok kita ketemu di mana, Mas?” Tanyanya lagi pada pria dihadapannya.
“Kita ketemu langsung di bandara saja, Tiket penerbangan ke Balinya udah aku siapin, nanti tolong diingetin aja” Jawab sang pria mesra.

“Stop pinggir pak” tak lama wanita tadi turun sambil melambai mesra pada sang pria, entah siapanya.

Serial Lulu: Volume Dua

May 14, 2007

Teror Bom Sekolah

Lulu menjejalkan potongan terakhir roti lapis coklat kesukaannya dan membetulkan letak postmanbag-nya. Gadis enam belas tahun itu cepat-cepat meraih stang sepeda BMX putih kesayangannya yang tadi bersandar malas pada pohon jambu didepan rumah lulu. Sama seperti posisi sepedanya barusan, pagi ini sebenarnya Lulu enggan untuk berangkat ke sekolahnya yang cuma berjarak beberapa ratus meter dari komplek rumah Lulu. Bukan karena Lulu kepengen juga bersandar sepanjang hari pada pohon jambu itu seperti sepedanya tadi, tapi hari ini kelas Lulu bakal dibuka sama pelajaran yang paling bikin Lulu panas dingin dangdut, yaitu pelajaran Fisika yang diajarin sama Bu Eling, salah satu personil the Killers.
The Killers yang satu ini bukan nama sebuah grup band bule yang video clipnya suka muncul di MTV, tapi itu merupakan istilah yang dipake anak-anak di sekolahan lulu buat melabeli kumpulan guru-guru yang harus diwaspadai keberadaanya karena bakal mempengaruhi level kesenangan dan kebahagiaan menjadi seorang remaja gaul masa kini.

Lulu inget semalem sempet ngerjain beberapa soal Fisika yang dengan semena-mena dikasih sama ibu Eling seminggu lalu buat dikerjain di rumah alias PR, tapi dari sepuluh soal yang dikasih, Lulu cuma berhasil ngejawab empat soal, itu juga udah pake petunjuk-petunjuk gaib yang selalu Lulu cari dan kait-kaitkan kalo Lulu lagi dalam masalah. Misalnya pernah waktu itu Lulu mengurungkan niatnya pergi main sepeda sore-sore keliling komplek cuma karena hujan (yee..ya iyalah…hehehe).

Sebenarnya Lulu bukan tipe murid pemalas atau bodoh, tapi untuk kasus spesial ini Lulu emang nyerah, selain gurunya killer. Menurut Lulu, dan juga sebagian besar teman-teman di kelasnya, Bu Eling ini suka kecepetan kalo membahas soal-soal Fisika. Keruan aja hal itu bikin Lulu tambah sebel. Udah gitu Lulu dan murid-murid yang lain terlalu takut untuk memprotes masalah itu, maka jadilah sekarang mereka yang kerepotan karena tidak dapat memahami pelajaran tersebut.

Karena inget baru ngerjain empat soal, Lulu cepat-cepat mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengayuh sepeda supaya dia bisa cepet-cepet sampe sekolah dan bergerilya mencari contekan dari teman-temannya yang lebih gape sama mata pelajaran yang satu ini. Biasanya sih Lulu langsung ketempat duduknya Fahmi, salah satu teman Lulu yang terkenal jago Fisika dan buru-buru menyalin semua jawaban tersebut. Tapi pagi ini Lulu kalah cepat. Di bangku Fahmi sudah ada 6 orang dengan posisi sedemikian rupa, menyerbu buku PR Fahmi, sementara yang empunya sedang membersihkan papan tulis. Kerumunan itu sedikit buyar ketika Lulu berusaha menyisip diantara teman2nya.
“hehehe..geser dikit ya pren, bagi-bagi jatah”
“antri aja deh Lu, soalnya jawabannya ada dua halaman, niy” Sissy sibuk mencatat semua jawaban PR Fisika tanpa menoleh ke Lulu.
Lulu cuma nyengir cuek kemudian asik menyalin PR tersebut. 15 menit kemudian bel sekolah berbunyi. Sudah sembilan soal yang berhasil Lulu rampungkan, tapi Lulu buru-buru duduk di bangkunya karena dia tahu Bu Eling bisa datang kapan saja, dan doi terkenal gak pernah telat.

Bener aja gak lama Guru killer itu datang tepat ketika Lulu berhasil merampungkan PRnya dengan semampu Lulu.
“Kumpulkan PR kalian” gak pake selamat pagi-siang-atau sore apalagi basa basi nanyain weekend ngapain aja sama anak-anak muridnya, Bu Eling segera memerintahkan murid-muridnya buat ngumpulin PR Fisika itu. Ditengah kesibukan anak-anak mengumpulkan buku-buku PR Fisika mereka, tiba-tiba Doni, teman sekelas Lulu muncul di depan pintu. Rupanya Doni terlambat, dan yang paling bikin apes, Doni sama sekali lupa buat ngerjain PR Fisika itu.
“Maaf bu, tadi saya bangun kesiangan” terbata-bata Doni memberi alasan keterlambatannya pada Bu Eling.
“Kumpulkan buku PR Fisikamu bersama yang lain”
“Sa-saya belum mengerjakannya, Bu” kalo ini Doni menunduk dalam-dalam.
“Kamu ikut saya, sekarang” keliatan banget Bu Eling berang bukan kepalang sama ulah Doni.
Dengan tertunduk lesu, Doni membuntuti langkah Bu Eling di ikuti tatapan iba bercampur ngeri dari teman-teman kelasnya tak terkecuali Lulu. Entah hukuman apa yang bakal Doni alamin pagi ini.

Gak lama Bu Eling datang lagi ke kelas tapi tanpa Doni. Anak-anak heran, hukuman apakah yang didapat Doni. Tapi keheranan mereka cepat terjawab ketika terdengar gemuruh gaduh dari kelas sebelah, dan samar-samar terlihat Doni sedang berjalan mengelilingi lapangan, …tapi mundur!.. kontan saja kelas Lulu ikutan gaduh melihat pemandangan itu. Antara kasihan bercampur lucu, Lulu memandangi Doni yang tampak kesulitan mengerjakan hukuman yang terlihat bener-bener gak ada manfaatnya dan cuma bikin malu sang pelaku, dalam hal ini si Doni itu.
Alhasil akibat kejadian tersebut, teman-teman Doni sukses menjulukinya Doni si Undur-undur, sejenis serangga kecil yang hidupnya di tanah berpasir dan konon berjalan mundur, dan Lulu ngerasa temen-temen yang menjuluki Doni itu gak asik kelakuannya karena udah bersikap semena-mena sama teman sendiri.

Seminggu kemudian, seperti biasa pagi-pagi sekali Lulu udah asik mengayuh sepedanya menuju sekolah, dengan niat dia harus lebih pagi dari yang lain karena PR yang dikasih Bu Eling kali ini 2 kali lebih banyak dari minggu kemarin, dan Lulu hanya mampu mengerjakan setengahnya.
Tapi pas Lulu tiba didepan pintu Gerbang, terlihat para guru dan satpam sekolah berdiri dengan wajah panik seraya berjaga-jaga didepan gerbang sekolahnya. Lulu dan beberapa murid yang telah datang heran dengan keadaan ganjil tersebut.
“Sekolah diliburkan hari ini, kalian belajar dirumah saja ya” Bu Wanda, guru BP yang terkenal paling kalem diantara guru guru lain di sekolah Lulu memberitahukan hal tersebut kepada Lulu dan anak-anak yang telah bergerumun didepan pintu gerbang. Ada yang terlihat senang dan langsung berbalik arah pulang, tapi ada juga yang tetap menunggu didepan gerbang sekolah karena penasaran, ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lulu yang sebenernya seneng juga karena ada libur dadakan ini mengurungkan niatnya untuk memutar pulang. Penasaran juga rupanya si Lulu ini.

Gak lama, beberapa mobil polisi datang beriringan memasuki sekolahan Lulu Lulu juga sempat ngeliat satu unit mobil polisi berwarna gelap dan bodynya paling gede dibanding mobil-mobil polisi lainnya. Ada tulisan besar berwarna kuning disamping kanan-kiri body mobil itu, “GEGANA”. Sepanjang pengetahuan Lulu, mobil polisi bertuliskan Gegana itu muncul pada tempat kejadian kalo ada isyu yang berkaitan sama bom di tempat tersebut. Setidaknya itu yang terserap Lulu dari tayangan televisi akhir-akhir ini.
Karena polisi makin banyak dan mulai membubarkan kerumunan anak-anak sekolahan Lulu yang penasaran, akhirnya Lulu dan anak-anak lainnya memutuskan untuk pulang setelah mendapat kepastian dari Bu Wanda bahwa mereka akan dikabari per telepon kapan mereka masuk sekolah kembali.

Malamnya, Lulu mendapat telepon dari Sissy, salah satu teman sekelas Lulu yang kebetulan Pamannya berkerja sebagai salah satu staff pengajar disekolahan Lulu. Sissy bilang sekolah di liburin karena Kepala Sekolah Lulu mendapat ancaman via sms dari seseorang yang tidak dikenal yang mengaku telah meletakan bom disalah satu ruangan disekolahan Lulu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Karena Kepsek tidak mau ambil resiko maka beliau segera memberitahu Polisi mengenai kejadian tersebut.
Lulu cuma manggut-manggut sambil mengelus-elus dagunya pas Sissy cerita panjang lebar mengenai hal tersebut.
“Udah ya, Lu, gw mo kabarin berita heboh ini sama anak-anak yang laen, daaah Lulu..”
Lulu sebenernya agak bingung juga kenapa ada orang yang ingin meledakan sekolah umum macam sekolahannya Lulu. Entah motif apa yang dicari sang pelaku. Lulu tahu dari Televisi biasanya ancaman-ancaman bom itu ditujukan untuk perkantoran-perkantoran penting atau gedung-gedung komersil, tapi mengancam ingin meledakan sekolah baru pertama kali Lulu dengar.

Esoknya karena belum ada kabar dari pihak sekolah kapan Lulu dan murid-murid lain bisa masuk sekolah lagi, akhirnya dengan rasa penasaran Lulu memacu sepedanya menuju sekolah. Hari ini Lulu ada janji dengan Fahmi dan Sissy untuk mencari tahu perkembangan yang terjadi.
“Pagi Bu, Pa..” Lulu, Fahmi dan Sissy kemudian menghampiri Bu Wanda.
Bu Wanda saat itu sedang duduk di Ruang Guru bersama Pak Suryo, guru olahraga di Sekolah Lulu.
“Pagi, Lho kalian kenapa kemari? Kan belum ada pemberitahuan lebih lanjut soal masuk sekolah” Bu Wanda terkejut melihat kedatangan mereka bertiga.
Lulu cuma nyengir “Iya Bu kita juga tau, kita cuma penasaran aja, lagian kebetulan rumah kita bertiga kan yang paling dekat dengan sekolah, jadi mau gak mau kita ikut peduli juga bu”
“Ini amit-amit ya bu” Lulu mengetuk-ngetukan tangannya pada meja
“Kita takut ledakannya berpengaruh sama keamanan komplek rumah kita” lanjut Lulu.
Fahmi dan Sissy mengangguk semangat mengiyakan alasan kedatangan mereka.
“Tahu dari mana kalian tentang berita pengancaman bom ini?” Bu Wanda menautkan kedua alisnya.
“Paman saya, bu” Sissy nyengir kuda malu-malu.
“Bu, kita boleh tau engga nomor handphone si pengancam bom?” Tiba-tiba Sissy melontarkan pertanyaan itu.
“Aduhh, buat apa? Kami sepakat untuk tidak melibatkan murid dalam hal ini” Bu Wanda setengah panik menjelaskan keberatannya terhadap permintaan Sissy tadi.
“Siapa tau kami bisa Bantu identifikasi nomor handphone pelakunya” Fahmi membantu memperkuat alasan Sissy.
“Maksud kalian, kalian mencurigai salah satu rekan kalian sendiri yang jadi pelaku?” Pak Suryo yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan tersebut jadi ikut angkat bicara.
“Bukan begitu, Pak, tapi jalan pikiran orang kan sulit ditebak. Lagian semua yang punya kepentingan di sekolah ini patut untuk dicurigai, terutama anak-anak muridnya” entah dari mana, tiba-tiba dugaan itu meluncur dari mulut Lulu.
Pak Suryo terdiam, berusaha mencerna perkataan Lulu tadi, namun kemudian Bu Wanda bersikukuh bahwa Lulu cs. Tidak perlu terlibat.
“Pokoknya engga bisa, kami tidak ingin ambil resiko. Biarlah pihak yang berwajib saja yang menangani kasus ini. Kalian pulang saja. Jika ada kabar terbaru Ibu janji akan secepatnya memberitahukan kalian” Bu Wanda tetap pada keberatannya.
Akhirnya Lulu, Fahmi dan Sissy pulang tanpa hasil dengan masih meninggalkan banyak pertanyaan yang engga terjawab dibenak mereka.

Sore itu Lulu sedang asik menonton siaran berita, ketika tiba-tiba HP-nya berbunyi.
“Lulu, gw dapet kabar terbaru. elo pasti kaget dengernya” dengan bersemangat Sissy bercerita pada Lulu.
“Udah ketauan siapa?” Tanya Lulu penasaran.
“Elo tahu siapa yang pelaku pengancam bom sekolah kita yang bikin heboh itu?” Sissy sengaja menggantungkan kalimatnya tanpa menjawab pertanyaan gusar Lulu yang membuat Lulu makin penasaran.
“Siapa???” Lulu naik 1 oktaf
“Doni!” Jawab Sissy singkat.
“heeh, Doni teman sekelas kita??” Lulu berusaha mencari kepastian dari apa yang baru saja ia dengar.
“iya, Doni si undur-undur” Sissy meyakinkan Lulu.
“Ya Ampun, kepikiran apa sih dia sampai nekat ngelakuin hal bodoh itu?” Lulu gusar bukan saja karena akhirnya dia tahu siapa pelakunya, namun Lulu juga menyesalkan dugaannya kepada Bu Wanda dan Pak Suryo tadi pagi ternyata benar.
“Sy, ada beritanya tuh di tipi, entar kita sambung lagi ya”
Lulu menekan tombol off HPnya dan segera menyimak berita yang menghebohkan sekolahnya tersebut.
Ternyata berita ditangkapnya seorang siswa SMU karena mengancam sekolahnya dengan SMS bom palsu akhirnya ditayangkan di telivisi dalam program berita sore, dan dari sana pula Lulu tahu kenapa Doni melakukan hal tersebut. Bom itu sebenarnya tidak pernah ada. Dan parahnya lagi ternyata Doni melakukan tindakan nekat itu cuma karena dia ingin kelasnya libur saat pelajaran Fisika-nya Bu Eling.

ciputat dibulan april.

Serial Lulu: Volume Satu

May 14, 2007

Reinkarnasi Centeng Perkebunan

Segerombolan cowo-cowo Abege lewat barusan, lengkap dengan atribut terkini tentunya. Ada yang ketora-toraan, ke upstairs-upstair-an, malah ada yang mirip banget sama dua aktor utama Reality Cinta dan Rock and Roll tapi mukanya gak banget. Dan sumpah, Lulu yang ngeliat pemandangan itu bukannya milih mana yang cucok’ kek tipikal cewe pada umumnya, dia malah kepikiran gimana caranya bergaya seperti itu. Lulu itu mahluk cuek. Atribut yang dipakenya sekarang aja cuma T-shirt warna putih kucel lengkap dengan kelinci play boy emas yang cukup gede nangkring didepannya. jeans belelnya yang sedengkul udah kusam abis karena sering dicuci-jemur-pake berulang-ulang. sementara Postman Bag warna ijo army yang setia menampung segala kebutuhan Lulu dari mulai handuk abang beca, kaos kaki, buku catatan, sampe kamera digital ada semua didalamnya. botol alumuiniumnya juga jadi salah satu penghuni tetap tas kucelnya Lulu.

Lulu juga gak ngerti, kenapa dia gak bisa jaim dan malu-malu didepan cowo’ kaya Rani teman sebangkunya, atau Centil dan doyan banget dandan kaya Mona tetangganya. Yang Lulu tau, kalo ada cowo petantang-petenteng, Lulu sebel aja liatnya, pengen nonjok. Tapi yang paling bikin Lulu benci adalah cowo yang suka kurang ajar sama cewe, rasanya lulu pengen ngajak mereka duel terus pengen Lulu dudukin mereka sambil ditonjokin mukanya, sadis ya.
Lulu tau dia perempuan, dan Lulu juga ngerasa normal-normal aja kok, buktinya Lulu masih doyan Wanihiko Fudo, tokoh sentral dalam manga karangan Chie Watari Favoritnya, atau Si Light dan si L dalam Death Note Anime favoritnya juga, tapi ya itu tadi, genrenya tetap yang bukan percintaan. Lulu lebih milih bergenre Horor, atau Detektif.
Mama Lulu pernah bilang sama Lulu, kalo dia itu kelakuannya mirip banget sama preman dan Mama bilang jangan-jangan dulu Lulu adalah Reinkarnasi dari salah satu Centeng Paling Gahar di Perkebunan Kopi Jaman Belanda. Lulu cuma nyengir aja ngedengernya.
Hari itu Lulu pergi ke Toko Buku yang suka jual buku-buku dari Jepang. Rencananya Lulu mau cari salah satu Majalah manga yang terbit tiap 4 bulan sekali tapi adanya cuma di Toko itu. Tiba-tiba tanpa sengaja bahunya ditabrak sama orang lain yang bikin komik-komik serta majalah tadi jatuh dari pegangan Lulu. Lulu sempat kesel dan marah-marah sama orang yang nabrak tanpa melihat ke orang tadi karena Lulu sibuk membereskan ceceran buku yang dia jatuhkan tadi, tapi bukannya sahutan maaf yang Lulu terima, cowo yang barusan nabrak Lulu malah bilang,”Kalo Jalan ati-ati dong, situ punya mata kan”. Spontan Lulu menengok cowo yang sekarang berdiri didepannya tanpa berusaha membantu Lulu membereskan buku-buku tersebut. Pengen deh saat itu juga Lulu ngajak duel cowo gak tau diri tadi, tapi Lulu juga tau ini ditempat ramai, jadi Lulu cuma ngelengos sebel sambil buru-buru ngeberesin bukunya dan ngeloyor dari tepat kejadian perkara tadi sebelum suara yang sama menyurutkan langkahnya pergi “heh, bukannya minta maap malah ngabur aja, Minta maap dulu lo sama gw!” “Lo kalo mau ngajak ribut jangan disini deh, Nora tau!” Lulu mulai gusar, cowo tadi bener-bener bikin Lulu naek darah. “Okey, sebutin tempatnya” cowo rese itu gak kalah keras. “Kita ke Basement !” Lulu menumpuk sembarangan komik-komik yang mestinya tadi dia ingin beli di rak terdekat. Selera membacanya sudah menguap.

Berdarah-darah Biadab??

Sebenernya hati Lulu rada ciut juga secara dia engga pernah dibekali ilmu bela diri apapun, paling-paling bekal Lulu cuma setangkup roti coklat buatan sendiri hihihihi..tapi kali ini dia harus berhadapan sama cowo yang gak sama sekali dia kenal dan tau-tau bikin masalah sama Lulu.
Sepanjang jalan menuju basement mall dari area Toko Buku tadi, Lulu terus berfikir.Gadis 16 tahun itu bingung karena dia kebayangin pulang kerumah dengan bibir jontor kek operasi plastik gagal, ato hidungnya bakal berdarah-darah biadab. Belum lagi dia pasti bakal memar-memar gak karuan, dan worst case scenarionya Lulu ngebayangin dia bakal diculik sama cowo itu dan dijadiin tukang minta-minta di Jepang. Sambil ngelus-ngelus hidung, Lulu mengeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan horor tadi.

“Kenapa lo? takuut?” Tiba-tiba suara cowo rese itu membuyarkan bayangan Lulu.
“Eng…Eng…Engga’, Sapa yang Jiper?” Lulu mendelik sewot, tapi sepertinya cowo tadi menangkap kesan ketakutan dari Lulu.
”Huh!, udahlah gini aja, kalo elo minta maap sekarang, urusan kita, kelar sampe disini” Cowo yang Lulu baru sadar ternyata berambut sebahu tadi mengetuk-ngetukan ujung sepatu kanvasnya.
Lulu melotot, namun sebenarnya hatinya rada lega ternyata cowo tadi melempar opsi damai buat Lulu. Tapi minta maap? Jelas-jelas cowo tadi yang menabrak Lulu, dan sekarang Lulu harus minta maap. Hati kecil Lulu berontak, tapi logikanya berkata lain.
”Ok. Gw minta maap. Puas!?” Lulu sama sekali tak menatap cowo tadi, dia kesal dengan keadaan ini.
”hey, lo niat gak sih minta maapnya? Ayo sekali lagi!, dan Tatap Mata gw” Lulu makin gondok sama cowo didepan Lulu.
Kemudian Lulu menengadah menghadap cowo yang tingginya jauh diatas Lulu.
”Gw..minta..maap sama elo”
”Nah, gitu dong…kan kelar urusannya dari tadi. Dan gw gak perlu ngabisin tenaga gw buat berantem sama cowo ceking abg, model elo!”
Sambil menyungging senyum sinis, cowo tadi melengos, meninggalkan Lulu yang sekarang lagi bengong dan gak tau musti gimana.

=end=
Ciputat, 23 jan. 2007@tatz

fact:

konon pernah dimuat disalah satu media kampus dengan bayaran tigaratus..

Sasti

May 8, 2007

Apa salahnya jika saya tidak ingin tahu lagi tentangnya..

Adalah wajar jika manusia menjauh dari sumber luka..
Adalah naluri alami jika manusia berhijrah dari sumber malapetaka..
Adalah Fitrah jika manusia inginkan bahagia..

Dan apa salahnya jika saya melakukanya..
menjauh darinya
tak ingin tahu lagi tentangnya
terserah ia mau kemana
karena dia sudah jadi derita yang buat saya terluka
dan dia telah menjadi marabahaya petaka peredup bahagia..

Maka jangan salahkan saya jika saya tak ingin tahu lagi tentangnya..

25/04/07

Semua terlambat, Sasti tahu itu. Andai dia bisa mengurai perasaannya ketika mereka masih berjumpa. Dia membaca kata perkata dan kemudian mencerna, lalu mengulanginya lagi dari pertama. Ada rasa tak percaya, tapi nyata. Susah payah Sasti menelan sebuah pil pahit kebenaran, dan sekejab tubuhnya seperti melayang, ke angkasa, mengudara…menembus awan..lalu terhempas hebat kembali mencium bumi, ketika dering ketiga telepon genggam yang dipengangnya dia jawab. Berita itu sama, dari sumber berbeda namun intinya sama merenggut semua pertahanan yang tersisa. Sasti merana.

***

Udara pagi dipinggiran kota Jakarta pada sebuah kampus tua cukup berkompromi hari ini. Sasti berlari kecil, semalam hujan lebat menguyur kampus dan sekitarnya, meninggalkan genangan disana sini yang membuat dara muda dengan gerai rambut hitam panjangnya lincah melompati beberapa genangan tadi. Tas penuh diktat kampus yang disandangnya mulai memberati Sasti, ketika lompatan terakhir pada genangan yang cukup lebar mengalahkan kelincahan Sasti. Tasnya jatuh, beberapa diktat tercecer basah. Sasti kecewa.

Entah dari mana munculnya, seorang pemuda tiba-tiba menghampiri. Memunguti ceceran diktat Sasti, mengeluarkan sapu tangan abu-abunya untuk membersikan lumpur yang menempel pada diktat-diktat tak tau untung itu. Membuat Sasti terpana pada mahluk didepannya. Siapa gerangan dia, pemuda ramah penolong dikala susah. Dan ketika mereka saling mengulurkan tangan, Sasti tahu namanya Rama, Ramadhan tepatnya. Dan seperti bulan Ramadhan, bagi Sasti Rama datang sebagai penyejuk jiwa. Sasti Bahagia.

Rama ternyata satu tingkat diatasnya. Sasti tahu, atau tepatnya mencari tahu. Satu tahun Rama mengambil cuti, dan baru tahun ini dia melanjutkan kembali. Fakultas mereka berbeda, tapi tak jadi masalah, karena Kampus mereka tetap sama. Rama sesekali muncul dikantin kampus ketika Sasti disana, atau tiba-tiba bus kuning Sasti berhenti pada stasiun kampus kemudian naiklah Rama. Mereka sering bertemu tak sengaja. Seperti ada lilitan benang merah takdir pada kelingking mereka berdua. Ada banyak kata yang Sasti pernah coba rangkai untuk Rama, tapi ketika tiba saatnya, setan kelu membuat Sasti terbata dan hanya sebatas kata iya dan tidak yang keluar dari lisannya ketika dia bicara dengan Rama. Sasti Gugup.

Rama begitu baik, Rama begitu populer, Rama periang dengan kawan dari berbagai lapisan. Rama kenal pak Mamat penjaga loket kereta. Rama berbincang akrab dengan Ibu Ratna staff TU tua menyebalkan. Rama membantu merapihkan buku-buku perpustakaan untuk Pak Ahmad petugas perputakaan. Rama bersenda gurau dengan teman-teman kampusnya di taman samping kantor pos kampus. Namun Sasti tak pernah melihat Rama mengakrabi salah satu wanita teman sebayanya. Apalagi jalan berdua dengan salah satu dari mereka. Sasti bertanya-tanya.

Siang itu selepas istirahat, Sasti berniat kembali ke perpustakaan. Tadi pagi buku yang dia cari masih tak ada, Sasti berharap siang ini buku yang dia butuhkan telah ada. Tak banyak yang datang, perpustakaan lengang. Mungkin karena kegiatan belajar baru saja dimulai, belum banyak mahasiswa yang mencari referensi untuk tugas-tugas kampusnya yang biasanya akan bertumpuk pada pertengahan bulan depan. Dan lagi-lagi Sasti bertemu. Rama duduk di salah satu bangku bermeja menghadap ke jendela. Di dalam perpustakaan dengan sedikit manusia, seperti membawa tanda bahwa Sasti diberi leluasa untuk mendekati Rama. Dengan terbata Sasti menyapa. Rama seperti biasa tersenyum ramah, mengajaknya bergabung, dan entah dari mana keberanian itu, kini Sasti melebur bersama Rama dalam suatu percakapan panjang. Rama begitu renyah dalam setiap obrolannya. Rama pandai bermain kata. Cakrawala pengetahuannya membentang jauh, pandangannya bijak tanpa berusaha mengurui, membuat seluruh kegugupan Sasti mencair. Sasti terlena.

Pertemuan mereka berlanjut. Sasti kini dapat meliat Rama lebih sering. Rama sering menguhubungi Sasti baik melalui telepon atau muncul di fakultas Sasti. Rama sering mengajak Sasti pergi, walau hanya sebatas acara kampus dan toko buku. Walau tak pernah meluncur kata suka dari mulut Rama, namun pertemuan-pertemuan tadi tetap membuat Sasti bahagia. Sasti melihat ada keyakinan di mata Rama jika hubungan mereka akan terus bergulur dan menuju kearah yang lebih serius lagi. Untuk saat ini Sasti tak peduli jika Rama tak pernah benar-benar mengungkapkan rasanya, karena Sasti dimabuk cinta.

Sudah 2 minggu Rama tiba-tiba menghilang. Telepon genggamnya tak pernah aktif lagi. Sasti mencari-cari, Sasti menggila. Dia bertanya pada semua orang yang pernah dekat dengan Rama kemana gerangan pria pujaannya berada, tapi tak satupun menjawab pasti, mereka ternyata tak tahu dimana Rama tinggal. Tempat kost Rama sepi. Teman satu kost Rama bilang dia juga tak melihatnya lebih dari tiga hari. Dan Sasti sadar kini bahwa ia ternyata tidak tahu banyak tentang Rama. Sudah 2 minggu Sasti kehilangan Rama. Sasti merindu.

Satu hari, diminggu ketiga Sasti tanpa Rama, Sasti mencoba terkoneksi ke dunia maya disuatu warnet dekat kampus tuanya. Dan Sasti menemukan surat elektronik dari Rama yang dikirim 1 minggu lalu. Subjeknya tertulis “Untuk Sasti dan seluruh cerita indah kita”
Diketukan jari-jarinya pada bantalan mouse dengan terburu-buru. Tampilan layar monitor berubah perlahan, menguak seluruh isi surat Rama yang begitu panjang dan manis, namun membuat tubuh Sasti mengigil hebat ketika Sasti membaca sebaris kalimat maha penting itu

“Maafkan Rama jika Rama baru berani jujur melalui surat ini,
Rama benar-benar menyukai Sasti,
dan hal itulah yang kini Rama coba hindari,
karena Rama sebenarnya telah lama mengikat janji bahtera rumah tangga dengan wanita lain,
semoga Sasti tidak memiliki perasaan yang sama dengan Rama,
karena alangkah sangat menyedihkan untuk kita berdua jika itu terjadi”…..

deretan kalimat selanjutnya terlihat buram dimata Sasti, Sasti putus Cinta.

~Sawangan~
“pada keheningan malam dikampung kecil sebuah desa kota”

KARMA

May 4, 2007

ada getir didadanya, ketika Rex menggores aspal jalan malam dengan kuda besi kesayangnya. Kecepatannya diatas seratus sekarang, tapi Rex tak peduli. Rex hanya ingin menghapus bayangan kelam siang tadi, Rex hanya ingin semuanya menguap diudara seperti embun pagi. Tapi frame demi frame gambaran Lusi , perempuan yang selama ini menghiasi relungnya bergelayut mesra pada seorang pria lain tetap tak bisa hilang.

Salipan rex mengundang makian dari pengendara dan penyeberang jalan, tapi rex benar-benar hilang. Hilang dari rasa sadar, hilang dari rotasi bumi. Kini yang ada hanya dunia rex dan kepahitan, yang lain bergerak lambat dan kabur dipikiran rex.
Tiga buah lampu merah sengaja diterabas rex. Rex sekarang benar-benar tak peduli.
Namun di lampu merah ke empat sosok putih tiba-tiba terlanggar oleh Rex. Motornya juga sempat oleng, namun berhasil dikendalikan kembali. Rex menoleh sebentar, tapi karena kerumunan massa yang makin banyak Rex memutuskan untuk memacu kendaraannya lagi, meninggalkan umpatan sesal dan tatapan-tatapan tidak percaya dari beberapa orang dibelakangnya. Rex juga meninggalkan sosok yang kini terbaring ditepian jalan akibat perbuatannya.

Gerbang putih setinggi hampir dua meter terbuka lebar ketika motor rex masuk dan memarkir tepat dibelakang sedan putih milik ayah Rex.
Rex tergesa-gesa masuk kedalam rumah. Kamar, hanya kamar tujuannya saat ini, beberapa kejadian yang ia alami hari ini cukup membuat otaknya terjejal bermacam-macam pikiran, belum lagi kejadian tabrak lari yang barusan ia lakukan. Sejuta bayangan buruk berkecambuk, membuat rex bergidik ngeri. Tiba dikamarnya rex mengempaskan tubuhnya diatas matras berpegas. Rex berusaha memejamkan kedua matanya namun baru menjelang subuh dia bisa terlelap.

Rex terbangun kaget oleh dering telepon genggamnya, diliriknya layar LCD pada telepon tersebut, fifi teman satu angkatan rex berusaha mengkontaknya. Matahari sudah tinggi, menerabas jendela-jendela besar kamar Rex. Usai menjawab telepon dari sahabatnya itu Rex langsung teringat kejadian semalam, bergegas ia menuju ruang tamu mencari-cari koran hari ini. Halaman demi halaman Rex susuri. Kolom demi kolom ia teliti, mencari-cari kalau-kalau ada berita tabrak lari semalam, namun hingga lembar terakhir tak juga ia temui berita tersebut. Hari ini rex memutuskan untuk pergi ke kampusnya mencari Lusi dan meluruskan masalah yang terjadi diantara mereka.

Kantin kampus Rex, ramai siang itu. Dengungan kata-kata dari berbagai manusia mengalir diudara, sesekali ada tawa dan teriakan-teriakan kecil. Rex mencari-cari sosok Lusi, telepon genggamnya tidak aktif sejak tadi. Tiba-tiba tepukan halus membuyarkan konsentrasi Rex. Fifi, dengan wajah sedikit panik, menjelaskan sesuatu,

“Rex, gw barusan ditelepon Lusi, katanya sekarang dia lagi ada dirumah sakit karena adik laki-lakinya kecelakaan semalem, pas abis pulang dari latihan Taekwondo di sekolahnya, katanya sih tabrak lari sama motor”.

The Sultan, 23.11.06.