Teror Bom Sekolah
Lulu menjejalkan potongan terakhir roti lapis coklat kesukaannya dan membetulkan letak postmanbag-nya. Gadis enam belas tahun itu cepat-cepat meraih stang sepeda BMX putih kesayangannya yang tadi bersandar malas pada pohon jambu didepan rumah lulu. Sama seperti posisi sepedanya barusan, pagi ini sebenarnya Lulu enggan untuk berangkat ke sekolahnya yang cuma berjarak beberapa ratus meter dari komplek rumah Lulu. Bukan karena Lulu kepengen juga bersandar sepanjang hari pada pohon jambu itu seperti sepedanya tadi, tapi hari ini kelas Lulu bakal dibuka sama pelajaran yang paling bikin Lulu panas dingin dangdut, yaitu pelajaran Fisika yang diajarin sama Bu Eling, salah satu personil the Killers.
The Killers yang satu ini bukan nama sebuah grup band bule yang video clipnya suka muncul di MTV, tapi itu merupakan istilah yang dipake anak-anak di sekolahan lulu buat melabeli kumpulan guru-guru yang harus diwaspadai keberadaanya karena bakal mempengaruhi level kesenangan dan kebahagiaan menjadi seorang remaja gaul masa kini.
Lulu inget semalem sempet ngerjain beberapa soal Fisika yang dengan semena-mena dikasih sama ibu Eling seminggu lalu buat dikerjain di rumah alias PR, tapi dari sepuluh soal yang dikasih, Lulu cuma berhasil ngejawab empat soal, itu juga udah pake petunjuk-petunjuk gaib yang selalu Lulu cari dan kait-kaitkan kalo Lulu lagi dalam masalah. Misalnya pernah waktu itu Lulu mengurungkan niatnya pergi main sepeda sore-sore keliling komplek cuma karena hujan (yee..ya iyalah…hehehe).
Sebenarnya Lulu bukan tipe murid pemalas atau bodoh, tapi untuk kasus spesial ini Lulu emang nyerah, selain gurunya killer. Menurut Lulu, dan juga sebagian besar teman-teman di kelasnya, Bu Eling ini suka kecepetan kalo membahas soal-soal Fisika. Keruan aja hal itu bikin Lulu tambah sebel. Udah gitu Lulu dan murid-murid yang lain terlalu takut untuk memprotes masalah itu, maka jadilah sekarang mereka yang kerepotan karena tidak dapat memahami pelajaran tersebut.
Karena inget baru ngerjain empat soal, Lulu cepat-cepat mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengayuh sepeda supaya dia bisa cepet-cepet sampe sekolah dan bergerilya mencari contekan dari teman-temannya yang lebih gape sama mata pelajaran yang satu ini. Biasanya sih Lulu langsung ketempat duduknya Fahmi, salah satu teman Lulu yang terkenal jago Fisika dan buru-buru menyalin semua jawaban tersebut. Tapi pagi ini Lulu kalah cepat. Di bangku Fahmi sudah ada 6 orang dengan posisi sedemikian rupa, menyerbu buku PR Fahmi, sementara yang empunya sedang membersihkan papan tulis. Kerumunan itu sedikit buyar ketika Lulu berusaha menyisip diantara teman2nya.
“hehehe..geser dikit ya pren, bagi-bagi jatah”
“antri aja deh Lu, soalnya jawabannya ada dua halaman, niy” Sissy sibuk mencatat semua jawaban PR Fisika tanpa menoleh ke Lulu.
Lulu cuma nyengir cuek kemudian asik menyalin PR tersebut. 15 menit kemudian bel sekolah berbunyi. Sudah sembilan soal yang berhasil Lulu rampungkan, tapi Lulu buru-buru duduk di bangkunya karena dia tahu Bu Eling bisa datang kapan saja, dan doi terkenal gak pernah telat.
Bener aja gak lama Guru killer itu datang tepat ketika Lulu berhasil merampungkan PRnya dengan semampu Lulu.
“Kumpulkan PR kalian” gak pake selamat pagi-siang-atau sore apalagi basa basi nanyain weekend ngapain aja sama anak-anak muridnya, Bu Eling segera memerintahkan murid-muridnya buat ngumpulin PR Fisika itu. Ditengah kesibukan anak-anak mengumpulkan buku-buku PR Fisika mereka, tiba-tiba Doni, teman sekelas Lulu muncul di depan pintu. Rupanya Doni terlambat, dan yang paling bikin apes, Doni sama sekali lupa buat ngerjain PR Fisika itu.
“Maaf bu, tadi saya bangun kesiangan” terbata-bata Doni memberi alasan keterlambatannya pada Bu Eling.
“Kumpulkan buku PR Fisikamu bersama yang lain”
“Sa-saya belum mengerjakannya, Bu” kalo ini Doni menunduk dalam-dalam.
“Kamu ikut saya, sekarang” keliatan banget Bu Eling berang bukan kepalang sama ulah Doni.
Dengan tertunduk lesu, Doni membuntuti langkah Bu Eling di ikuti tatapan iba bercampur ngeri dari teman-teman kelasnya tak terkecuali Lulu. Entah hukuman apa yang bakal Doni alamin pagi ini.
Gak lama Bu Eling datang lagi ke kelas tapi tanpa Doni. Anak-anak heran, hukuman apakah yang didapat Doni. Tapi keheranan mereka cepat terjawab ketika terdengar gemuruh gaduh dari kelas sebelah, dan samar-samar terlihat Doni sedang berjalan mengelilingi lapangan, …tapi mundur!.. kontan saja kelas Lulu ikutan gaduh melihat pemandangan itu. Antara kasihan bercampur lucu, Lulu memandangi Doni yang tampak kesulitan mengerjakan hukuman yang terlihat bener-bener gak ada manfaatnya dan cuma bikin malu sang pelaku, dalam hal ini si Doni itu.
Alhasil akibat kejadian tersebut, teman-teman Doni sukses menjulukinya Doni si Undur-undur, sejenis serangga kecil yang hidupnya di tanah berpasir dan konon berjalan mundur, dan Lulu ngerasa temen-temen yang menjuluki Doni itu gak asik kelakuannya karena udah bersikap semena-mena sama teman sendiri.
Seminggu kemudian, seperti biasa pagi-pagi sekali Lulu udah asik mengayuh sepedanya menuju sekolah, dengan niat dia harus lebih pagi dari yang lain karena PR yang dikasih Bu Eling kali ini 2 kali lebih banyak dari minggu kemarin, dan Lulu hanya mampu mengerjakan setengahnya.
Tapi pas Lulu tiba didepan pintu Gerbang, terlihat para guru dan satpam sekolah berdiri dengan wajah panik seraya berjaga-jaga didepan gerbang sekolahnya. Lulu dan beberapa murid yang telah datang heran dengan keadaan ganjil tersebut.
“Sekolah diliburkan hari ini, kalian belajar dirumah saja ya” Bu Wanda, guru BP yang terkenal paling kalem diantara guru guru lain di sekolah Lulu memberitahukan hal tersebut kepada Lulu dan anak-anak yang telah bergerumun didepan pintu gerbang. Ada yang terlihat senang dan langsung berbalik arah pulang, tapi ada juga yang tetap menunggu didepan gerbang sekolah karena penasaran, ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lulu yang sebenernya seneng juga karena ada libur dadakan ini mengurungkan niatnya untuk memutar pulang. Penasaran juga rupanya si Lulu ini.
Gak lama, beberapa mobil polisi datang beriringan memasuki sekolahan Lulu Lulu juga sempat ngeliat satu unit mobil polisi berwarna gelap dan bodynya paling gede dibanding mobil-mobil polisi lainnya. Ada tulisan besar berwarna kuning disamping kanan-kiri body mobil itu, “GEGANA”. Sepanjang pengetahuan Lulu, mobil polisi bertuliskan Gegana itu muncul pada tempat kejadian kalo ada isyu yang berkaitan sama bom di tempat tersebut. Setidaknya itu yang terserap Lulu dari tayangan televisi akhir-akhir ini.
Karena polisi makin banyak dan mulai membubarkan kerumunan anak-anak sekolahan Lulu yang penasaran, akhirnya Lulu dan anak-anak lainnya memutuskan untuk pulang setelah mendapat kepastian dari Bu Wanda bahwa mereka akan dikabari per telepon kapan mereka masuk sekolah kembali.
Malamnya, Lulu mendapat telepon dari Sissy, salah satu teman sekelas Lulu yang kebetulan Pamannya berkerja sebagai salah satu staff pengajar disekolahan Lulu. Sissy bilang sekolah di liburin karena Kepala Sekolah Lulu mendapat ancaman via sms dari seseorang yang tidak dikenal yang mengaku telah meletakan bom disalah satu ruangan disekolahan Lulu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Karena Kepsek tidak mau ambil resiko maka beliau segera memberitahu Polisi mengenai kejadian tersebut.
Lulu cuma manggut-manggut sambil mengelus-elus dagunya pas Sissy cerita panjang lebar mengenai hal tersebut.
“Udah ya, Lu, gw mo kabarin berita heboh ini sama anak-anak yang laen, daaah Lulu..”
Lulu sebenernya agak bingung juga kenapa ada orang yang ingin meledakan sekolah umum macam sekolahannya Lulu. Entah motif apa yang dicari sang pelaku. Lulu tahu dari Televisi biasanya ancaman-ancaman bom itu ditujukan untuk perkantoran-perkantoran penting atau gedung-gedung komersil, tapi mengancam ingin meledakan sekolah baru pertama kali Lulu dengar.
Esoknya karena belum ada kabar dari pihak sekolah kapan Lulu dan murid-murid lain bisa masuk sekolah lagi, akhirnya dengan rasa penasaran Lulu memacu sepedanya menuju sekolah. Hari ini Lulu ada janji dengan Fahmi dan Sissy untuk mencari tahu perkembangan yang terjadi.
“Pagi Bu, Pa..” Lulu, Fahmi dan Sissy kemudian menghampiri Bu Wanda.
Bu Wanda saat itu sedang duduk di Ruang Guru bersama Pak Suryo, guru olahraga di Sekolah Lulu.
“Pagi, Lho kalian kenapa kemari? Kan belum ada pemberitahuan lebih lanjut soal masuk sekolah” Bu Wanda terkejut melihat kedatangan mereka bertiga.
Lulu cuma nyengir “Iya Bu kita juga tau, kita cuma penasaran aja, lagian kebetulan rumah kita bertiga kan yang paling dekat dengan sekolah, jadi mau gak mau kita ikut peduli juga bu”
“Ini amit-amit ya bu” Lulu mengetuk-ngetukan tangannya pada meja
“Kita takut ledakannya berpengaruh sama keamanan komplek rumah kita” lanjut Lulu.
Fahmi dan Sissy mengangguk semangat mengiyakan alasan kedatangan mereka.
“Tahu dari mana kalian tentang berita pengancaman bom ini?” Bu Wanda menautkan kedua alisnya.
“Paman saya, bu” Sissy nyengir kuda malu-malu.
“Bu, kita boleh tau engga nomor handphone si pengancam bom?” Tiba-tiba Sissy melontarkan pertanyaan itu.
“Aduhh, buat apa? Kami sepakat untuk tidak melibatkan murid dalam hal ini” Bu Wanda setengah panik menjelaskan keberatannya terhadap permintaan Sissy tadi.
“Siapa tau kami bisa Bantu identifikasi nomor handphone pelakunya” Fahmi membantu memperkuat alasan Sissy.
“Maksud kalian, kalian mencurigai salah satu rekan kalian sendiri yang jadi pelaku?” Pak Suryo yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan tersebut jadi ikut angkat bicara.
“Bukan begitu, Pak, tapi jalan pikiran orang kan sulit ditebak. Lagian semua yang punya kepentingan di sekolah ini patut untuk dicurigai, terutama anak-anak muridnya” entah dari mana, tiba-tiba dugaan itu meluncur dari mulut Lulu.
Pak Suryo terdiam, berusaha mencerna perkataan Lulu tadi, namun kemudian Bu Wanda bersikukuh bahwa Lulu cs. Tidak perlu terlibat.
“Pokoknya engga bisa, kami tidak ingin ambil resiko. Biarlah pihak yang berwajib saja yang menangani kasus ini. Kalian pulang saja. Jika ada kabar terbaru Ibu janji akan secepatnya memberitahukan kalian” Bu Wanda tetap pada keberatannya.
Akhirnya Lulu, Fahmi dan Sissy pulang tanpa hasil dengan masih meninggalkan banyak pertanyaan yang engga terjawab dibenak mereka.
Sore itu Lulu sedang asik menonton siaran berita, ketika tiba-tiba HP-nya berbunyi.
“Lulu, gw dapet kabar terbaru. elo pasti kaget dengernya” dengan bersemangat Sissy bercerita pada Lulu.
“Udah ketauan siapa?” Tanya Lulu penasaran.
“Elo tahu siapa yang pelaku pengancam bom sekolah kita yang bikin heboh itu?” Sissy sengaja menggantungkan kalimatnya tanpa menjawab pertanyaan gusar Lulu yang membuat Lulu makin penasaran.
“Siapa???” Lulu naik 1 oktaf
“Doni!” Jawab Sissy singkat.
“heeh, Doni teman sekelas kita??” Lulu berusaha mencari kepastian dari apa yang baru saja ia dengar.
“iya, Doni si undur-undur” Sissy meyakinkan Lulu.
“Ya Ampun, kepikiran apa sih dia sampai nekat ngelakuin hal bodoh itu?” Lulu gusar bukan saja karena akhirnya dia tahu siapa pelakunya, namun Lulu juga menyesalkan dugaannya kepada Bu Wanda dan Pak Suryo tadi pagi ternyata benar.
“Sy, ada beritanya tuh di tipi, entar kita sambung lagi ya”
Lulu menekan tombol off HPnya dan segera menyimak berita yang menghebohkan sekolahnya tersebut.
Ternyata berita ditangkapnya seorang siswa SMU karena mengancam sekolahnya dengan SMS bom palsu akhirnya ditayangkan di telivisi dalam program berita sore, dan dari sana pula Lulu tahu kenapa Doni melakukan hal tersebut. Bom itu sebenarnya tidak pernah ada. Dan parahnya lagi ternyata Doni melakukan tindakan nekat itu cuma karena dia ingin kelasnya libur saat pelajaran Fisika-nya Bu Eling.
ciputat dibulan april.