Kamu tau setiap kamu ketawa?, aku seperti ingin meleleh, seperti es krim yang dijemur pada terik matahari.
Kamu tau kenapa aku bisa meleleh? Karena kamu punya that silly-but-sweet-single-dimple on your right cheek.
Setiap kamu bikin aku bete, kamu sepertinya udah tau kelemahan aku dimana. Kamu Cuma senyum atau ketawa dan seketika aku mencair, and the problem solved. Its not fair!.
“hey, kok bengong?, ini hot chocolate pesenan kamu” Hyuk joo menyodorkan 1 gelas plastik tahan panas ukuran medium padaku. Tebaran harumnya coklat seketika memenuhi rongga penciumanku menghangatkan pernapasanku diudara dingin menjelang musim gugur ini.
“Komawo [thanks]” Aku menerima gelas tersebut dan segera menyesap sedikit. Kepulan uap hangat keluar dari mulutku ketika rasa panas mulai menjalari lidah dan turun menuju saluran pencernaan. “emm..Hangaat”
Lagi-lagi tanpa ampun Hyuk Joo tersenyum padaku, tanpa melepas tatapannya. Entahlah mungkin saat ini pipiku sudah semerah buah tomat, aku memalingkan wajah pura-pura mencari sesuatu di dinding halte bus.
“ahh, aku ingin ke pasar Dongdaemun hari ini, ada beberapa barang titipan teman di Indonesia yang harus aku beli” menunjuk peta kota Seoul pada dinding halte itu. Sebeneranya aku hanya mencoba memecahkan dead air disekitar kami.
“Boleh. Kalo gitu kita naik bus no. 81. kamu masih sanggup jalankan?” Tanya Hyuk Joo manis.
“Sanggup dong, kamu gak tau yaa? di Jakarta aku juga sering jalan, apalagi kalo macet, udah gitu halte Trans Jakartanya dari kantor aku lumayan jauh, jadi aku biasa jalan”
Emm..benar-benar informasi yang gak penting.
“TransJakarta? Apa itu? Subwaynya Jakarta ya?” mulutnya mengerucut.
Informasi gak penting dari aku tadi ternyata memunculkan pertanyaan untuk pria tampan di sampingku ini.
“Bukan, Indonesia belum punya subway, TransJakarta itu transportasi umum yang ada di Jakarta, pake Bus juga, tapi dia punya koridor khusus yang gak boleh dilalui oleh kendaraan lain selain bus TransJakarta” jelasku padanya sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan di jalan. Beberapa orang silih berganti duduk di halte ini, sebentar kemudian naik pada bus-bus umum yang bergantian menepi dengan berbagai rute.
“itu dia busnya, naik yuu” Hyuk Joo seketika bangun dan menggenggam tanganku.
Sebuah Bus besar, mirip PPD, perlahan menepi.
Ada perasaan aneh yang mendadak merayap naik kedadaku ketika hyuk joo menggenggam erat tanganku. Rasanya seperti melihat kembang api yang berbunga di angkasa malam., sekejap, namun indaaah sekali.
Aku hanya mengangguk menerima ajakannya. kuperbaiki letak postman bag-ku dengan tangan kanan [karena tanggan kiriku sibuk menggenggam tangan Hyuk Joo yang besar namun halus itu] Gelas plastic berisi hot chocolate yang tinggal setengah itu ku biarkan tergeletak dibangku besi halte, bad habit.
Bus besar bernomor 81 yang ditunjuk Hyuk Joo berhenti dihadapan kami. Pintu busnya terbuka otomatis persis seperti bus bus umum Ber-Ac di Jakarta. Hanya bedanya kamu gak’ bakalan nemuin kondektur di dalamnya, karena semua pembayaran sudah diatur secara otomatis.
Hyuk Joo mendekatkan sebuah kartu berwarna ungu pada mesin scanning disamping sang supir, lalu terdengar bunyi “kamsahamnida” [trima kasih] secara otomatis dari mesin tersebut, lalu aku melakukan hal yang sama, kulepaskan genggaman hangat tangan Hyuk Joo [yang sebenarnya tak pernah sekalipun ingin ku lakukan] dan merogoh kantong jaket coklatku meraih kartu itu.
Sebentar kemudian bus mulai berjalan kembali.
Aku dan Hyuk Joo berjalan ke belakang menuju deretan bangku yang berjajar paling belakang dan masih kosong.
Ku hempaskan tubuhku pelan pada kursi berwarna biru. Aku duduk di sudut belakang bus. Di sampingku Hyuk Joo duduk sambil sesekali menunjuk nama tempat yang kami lewati.
“Kalau yang itu namanya pintu masuk Jonggak yok [stasiun Subway Jonggak]. Lain kali aku akan aja kamu berkeliling Seoul dengan subway, ok?” Hyun Joo lagi-lagi tersenyum.
Aku hanya membalas senyumannya dan kembali memperhatikan pemandangan di luar jendela bus. Lalu-lalang manusia masih padat disekitar jalur pejalan kaki. Saat ini awal musim gugur. Pohon-pohon mulai menguning tanda siap meranggas, mengugurkan daunnya satu-satu. Indah sekali.
“Jadi dua minggu lagi kamu beneran mau balik ke Jakarta?” pertanyaan retorik dari Hyuk Joo yang sudah berkali-kali dia tanyakan seperti mencari kepastian di dalamnya di lontarkannya lagi, memecahkan keheningan sesaat kami.
“jadi kamu mau bener-bener pergi, dan ninggalin aku di sini?” Hyuk Joo bertanya lagi tanpa sempat ku jawab pertanyaannya yang pertama.
“Aku enggak pergi, Hyuk joo ssi, tapi aku pulang”
“Aku harus pulang, masa trainingku di sini habis minggu depan, dan aku punya tanggung jawab terhadap perusahaanku di Jakarta”
Hyuk Joo membeo pada barisan kalimat terakhirku yang memang menjadi alasan utama kepulanganku ke Jakarta.
Hyuk Joo mendengus kesal. Dikerucutkannya kembali mulutnya.
Tiba-tiba Hyuk Joo menyandarkan kepalanya pada pundakku, namun karena tinggi, ia sedikit menunduk. Tangannya dia lingkarkan pada lenganku. Aku sedikit beringsut mundur, jengah dengan tindakannya yang tiba-tiba. Untung kami duduk paling belakang, sehingga tak terlalu mengundang banyak perhatian dari penumpang lain.
“Kajimaaa…[jangan pergi]” katanya lirih padaku, mulutnya dia tekuk kebawah pura-pura merajuk, dan aku malah tertawa demi menyaksikan mimiknya yang lucu.
“Utjimaaa..[jangan ketawa]” tarikan dialek khas Busan Hyun Joo membuatku berhenti tertawa. Tiba-tiba Hyuk Joo menarik dirinya dan membuang pandangannya ke arah berlawanan.
Bus yang kami tumpangi tak lama berhenti pada halte Pasar Dongdaemun. Tanpa berkata apapun Hyuk Joo turun mendahuluiku. Dia benar-benar merajuk kali ini.
[Seoul.10.10.2010]