Sudah lama, lama sekali. Sejak pertama kali aku melihatnya, aku langsung jatuh cinta. Cinta pertamaku, cinta yang kali ini benar-benar tak dapat lagi kusembunyikan.
Kehadirannya menjadikan duniaku seperti dipenuhi kelopak bunga yang menebar wangi hingga penjuru bumi. Senyumnya membuatku mencair bak salju tergerus mentari. Wujudnya membuatku tergila-gila dan ingin segera berlari dalam dekapan hangat dada bidangnya.
Namanya Darian, cowo jangkung dengan segudang prestasi baik akademis maupun nonakademis. Darian adalah ketua club basket di sekolahku, dia adalah magnet kaum perempuan, buktinya bukan aku saja yang ternyata menaruh hati padanya. Lihat si centil Lusi, si cerewet Rosa, si Judes Shintya, bahkan si kalem pendiam, Santi. Semua menyukainya. Tidak heran, dia sangat-sangat sempurna, setidaknya di mata kami. Sosoknya yang tinggi tegap, dengan kulit putih segar yang kadang bersemu-semu setiap kali dia selesai beraktivitas. Potongan rambutnya pun terlihat sangat sempurna membingkai wajah dan rahang tegasnya. Belum lagi sorot mata elangnya yang siap menelan kami bulat-bulat, serta ini yang tak kalah menggoda, lesung pipit di kedua pipinya yang akan terukir jelas tiap kali dia tersenyum. Aku terpesona.
Aku bersyukur sekali, diberi keberuntungan untuk dapat terus melihatnya karena aku kebetulan satu kelas dengannya. Mungkin ucapan syukur ini juga tergores di hati sebagian besar perempuan-perempuan yang menjadi teman satu kelasnya, dan tentu saja menjadi sainganku.
Tapi aku tak ingin menyerah begitu saja. Aku terlanjur cinta padanya, apapun akan ku lakukan untuk mendapatkanya. Memang, aku tak secantik Mira dengan pipi merah dan hidung bangirnya, atau tak se-seksi johana yang selalu membusungkan dadanya yang sudah busung setiap kali dia melintas di depan pria pujaan kami. Tapi teman-temanku selalu bilang aku manis, suaraku juga indah. Teman-teman juga bilang bahwa aku pandai bergaul dan teman curhat yang nyaman, sehingga membuatku lebih yakin untuk segera mengungkapkan isi hati yang hampir tak dapat ku bendung lagi padanya.
Bahkan cintaku bertambah besar karena dia begitu baik padaku, dia sering mengajakku makan siang dikantin sekolah, atau meminjam catatanku yang rapih. Buatku itu merupakan suatu prestasi yang amat-amat berharga dan menjadikan sebuah moment yang tak bakal ku lupa sepajang hidupku. Pernah ku bertanya padanya, mengapa dia lebih suka meminjam catatan padaku daripada catatan Rosa si bintang kelas yang rapih dan sering menjadi bahan pinjaman. Dia hanya menjawab “supaya gak ada gosip”. Aku hanya menganguk mendengarkan penjelasan singkatnya.
Lamunanku buyar ketika Mira teman sebangkuku mencolek pinggangku. “hoei!..bengong ajee, pulang yuk Rin”
Lalu tanpa sempat ku menjawab ajakannya, Mira buru-buru menarik lenganku menuju tempat parkir sekolah melewati lapangan basket yang cukup ramai siang itu oleh sekumpulan anak-anak pria yang asik bermain basket, termasuk Darian. Peluh Darian bercucuran, wajahnya segar kemerahan. Dia begitu sempurna, dan kulihat Mira juga menikmati pemandangan indah yang sama denganku. Pipi Mira bersemu.
Kini giliran aku yang mencolek bahunya. Mira menoleh padaku dan tersenyum malu, sambil kembali menarik tanganku menuju sedan putih mungilnya.
“Gue rasa gue jatuh cinta, Rin” katanya sambil menghempaskan tubuhnya dikursi depan mobilnya. Matanya menerawang.
Aku hanya memandangnya sedih, Aku juga, Mir. Aku juga.
Tiba-tiba Mira memiringkan tubuhnya padaku. “Rin, gue punya misi buat elo, dan sebagai temen baik, hukumnya wajib buat elo untuk bilang iya, ok?”
Alisku bertautan, membayangkan misi apa yang akan aku jalani sesuai perintah Mira.
“Misi apa?” Tanyaku padanya penasaran.
“Janji dulu, elo harus mau ngejalanin misi ini” kelingking kurus Mira terjulur padaku menungguku menyambutnya dengan kelingkingku.
Ragu-ragu ku julurkan juga kelingkingku dan Mira buru-buru mengkaitkan kelingkingnya pada kelingkingku. “Atas nama persahabatan” tawa Mira lepas.
Sambil tak lagi mengungkit soal misinya, Mira mengenakan sabuk pengaman dan segera mengemudikan mobilnya keluar dari gerbang sekolah kami.
“Detailsnya nanti gue ceritain di rumah gue, nanti gue anterin elo pulang deh”
Aku membanting ransel hitamku kelantai kamar begitu aku masuk kedalamnya. Hatiku gundah. Terngiang kembali pembicaraanku dengan Mira di kamarnya sesaat lalu tentang misi rahasia yang harus aku jalani demi Mira. Mira menaruh hati pada Darian, itu memang sudah ku duga. Sama seperti sebagian besar perempuan di sekolah kami. Tapi jika aku harus bersandiwara demi kesuksesan Mira untuk mendekati Darian dan syukur-syukur bisa menjadi kekasihnya, itu yang membuatku resah karena jelas-jelas sangat bertentangan dengan bathinku. Walau dilain pihak Mira adalah sahabat yang paling dekat dan paling menerimaku apa adanya, tapi entahlah kali ini.
Aku tahu aku beda, beda dari yang lainnya.Walau tak jelas secara fisik, namun sudah kurasakan sejak aku SD, dulu. Aku dan Mira sama-sama mencintai orang yang sama, namun kami jelas tak sama. Maafkan aku Mir, kali ini aku tidak bisa membantumu.
Ku seka air mataku ketika ibu mengetuk pintu kamarku pelan. “Rin, Kamu sudah pulang nak? Temani ibu makan siang,yuk”
“Iya bu sebentar, Rinto ganti baju dulu”.
[Jakarta July 2007]