Aku baru menemukan fungsi lain dari kopaja. Angkutan umum kumal dengan warna hijau pudar yang bila berjalan ia berderak-derak. Sementara jejak yang ditinggalkannya hanya gumpalan debu dan asap knalpot hitam penuh timbal yang bergulung lalu pecah oleh angin. Temanku pernah bilang jika kita sering-sering menghirupnya, tubuh kita perlahan-lahan akan berubah menjadi besi.
Fungsi lain kopaja itu ternyata adalah tempat kita berpikir, merenung, bahkan mengenang hingga air mata sering sekali tergenang di kedua mataku. Ketika jendela buram itu kubuka lebar-lebar dan angin menebas-nebas kain jilbabku, maka pikiranku melebur tergerus deru kopaja. Mengawang keangkasa mengingat semua hal yang pernah kulihat dan kurasakan.
Jika pikiranku terhenti pada satu titik dimana titik tersebut merupakan pencitraan dari detik-detik suatu subuh dalam sebuah rumah sakit besar berlantai 6 dan lenggang serta bau antiseptik yang khas bercampur alat bantu napas, maka mataku tiba-tiba hangat. Sedetik kemudian airmata meluncur. Jika seperti itu, aku memilih tidur, atau memejamkan mata walau mata ini masih terasa hangat.
Kopaja itu terus melaju melintasi jalan yang kadang-kadang padat, kadang-kadang lengang, kadang-kadang lurus, kadang juga menikung. Semakin kopaja itu kosong oleh penumpang, semakin kencang bunyi berderak di dalamnya. Derak-derak pada lantai besi yang keropos. Derak-derak pada kaca-kaca jendela buramnya yang longgar dengan pinggiran yang menghitam. Derak-derak pada tubuh kopaja yang berkarat.
Jika pikiran itu berwarna, maka akan ada banyak warna di langit-langit kopaja. Seorang wanita dengan tas besar yang tampak kerepotan mengatur tasnya agar tak terinjak penumpang lain. Kacamata hitam bertengger di atas kepalanya. Penampilannya seperti seseorang yang gagap terhadap budaya moderen. Ia tercenung sambil memperhatikan pemandangan dari balik jendela.
Seorang bapak tua penuh uban dengan tas kulit kecil yang ia kempit di ketiaknya sejak tadi. Tangan yang satunya menggenggam segulung Koran. Lehernya berkeringat. Matahari menyengat tengkuknya. Ia juga tercenung entah angannya sampai kemana.
Dunia ada memang bukan hanya milikku. Ketika takdir-takdir itu berdatangan aku tak dapat mengelabui mereka. Berbenturan pada titik balik kehidupan membuatku merubah bingkai berpikirku. Barometer pandangku terhadap segala sesuatupun nampak termodifikasi.
Dan dari balik kaca jendela kopaja ini, ketika kupandangi pemandangan-pemandangan di sisi jalan yang seperti berlarian menjauh dan pikiranku mulai kembali mengawang, aku kembali menangis. Sementara penumpang silih berganti naik dan turun ke tempat yang mereka tuju. Sama seperti orang-orang yang ku kenal. Aku kesepian di tengah keramaian.
Ah, dari balik jendela kopaja ini juga aku baru benar-benar memahami arti kata merindu yang sesungguhnya hingga dada ini seperti ingin meledak dan mulut ini seperti ingin menjerit, namun lagi-lagi yang keluar cuma air mata.
tatz|200609|02.03