kesetiaan

Aku enggak tahu cinta itu apa. Tapi jika kau perhatikan bangsal-bangsal dan lorong rumah sakit, kau akan kerap mendapati pasangan tua yang duduk berdampingan dan saling menguatkan satu sama lain.

Dan aku pikir sebuah kesetiaan telah melampaui arti cinta itu sendiri.

 

@t4tz2016

\ˈwän-dər-ˌləst\ [day 7]

(Based on “Dont Stop Me Now” lyric by Queen)

Layaknya sebuah film, gw yakin banyak orang-orang di luaran sana yang punya soundtrack hidup masing-masing. Lagu-lagu yang kadang ‘terputar’ sendiri di otak ketika sedang melakukan suatu hal atau sedang dalam kondisi tertentu. Biasanya sih memang berangkat dari lagu-lagu favorit. Semisal kalau lagi sedih tetiba jadi inget lagu-lagu melow dengan lirik lagu yang mengiris-ngiris hati. Atau ketika lagi semangat gitu lalu di kepala terdengarlah lagu-lagu mars perjuangan :D.

Buat gw, lagu-lagunya Queen punya tempat tersendiri di hati. Selain banyak track yang bagus, lagu-lagu band legendaris asal Inggris ini selalu ear catchy. Salah satu lagu yang menurut gw pantas sekali mengiringi gw packing ketika hendak pergi traveling adalah ‘Don’t Stop Me Now’.

Lagu itu cocok banget di hati sama di telinga.

Beberapa tahun belakangan ini walau enggak sering-sering banget, alhamdulillah berkesempatan buat bisa jalan-jalan ke luar negeri. Mulai dari negara-negara tetangga yang dekat sampai ke Asia Timur. Mulai dari menelusuri candi – candi yang pernah menjadi lokasi shooting film box office Tomb Rider di komplek Angkor Wat, Kamboja sampai mencelupkan kaki di arus sungai keren Cheonggyeocheon Stream di Korea, I’m gonna go… go… go… There’s no stopping me.

Seperti sudah jadi personal anthem, lagu Queen yang ini benar-benar memompa semangat ketika akan merencanakan perjalanan berikutnya. Adrenaline dalam tiap bait lagunya menghantarkan benak gw berkeliling di dunia khayal bakal ke tempat seperti apa, dan bakal bertemu dengan orang macam apa lagi di perjalanan gw kali ini. I feel alive and the world it’s turning.

Belum banyak memang negara yang sudah gw sambangi, masih bisa dihitung jari namun siapapun yang pernah mengalami jalan-jalan pastinya memiliki kenangan tersendiri yang tidak bakal terlupakan dalam hidupnya. Mendaki ratusan anak tangga di bukit Sigiriya, hujan-hujanan di Apgujeong, bahkan mengunyah jangkrik di Seam Reap adalah bagian-bagian indah dari rangkaian perjalanan gw. ‘Cause I’m having a good time.

Kata orang sekali kita traveling, maka kelak kita akan melakukannya lagi dan lagi. Seakan ada semacam zat adiktif yang sangat unik dari sebuah perjalanan yang membuat gw ingin lagi dan lagi melakukannya. Seolah menelanjangi satu negara saja tidaklah cukup. Dan gw yakin, banyak hal-hal baik yang terkandung dalam sebuah perjalanan. Salah satunya mengasah rasa bersyukur. Don’t stop me now, I’m having such a good time, I’m having a ball, don’t stop me now If you wanna have a good time, just give me a call.

Gw yakin, jalan-jalan adalah sebuah pengalaman spiritual tersendiri bagi sang pelaku. Walau negara dan track-nya sama tapi tidak pernah ada yang benar-benar mirip dalam pengalaman. Setiap orang punya pengalaman tersendiri.

Maka, tiap kali gw menjejakan kaki di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, akan selalu ada perasaan yang membuncah dan siap meletup dan menjadi kejora di angkasa. Menyenangkan sekali rasanya. I’m a shooting star leaping through the skies Like a tiger defying the laws of gravity.

Semoga langkah kaki ini tidak akan terhenti sampai di 10 negara saja. Semoga suatu hari nanti bisa juga menjejakkan langkah ini ke negara lain nun jauh di sana, di benua yang lain, lalu menemukan hal unik yang tadinya cuma bisa gw baca dari beberapa catatan perjalanan orang-orang yang beruntung. Semoga gw tetap semangat dan bisa memaknai semua perjalanan gw, coz’ I don’t want to stop at all.

 

Tenggelam [Day 4]

Kabar buruk itu datang bersama angin yang menderu sebelum hujan jatuh.

Tak lama berselang, hujanpun jatuh tercurah begitu deras mengguyur permukaan bumi berbarengan dengan tangisku yang pecah.

Bagai sesosok Dementor, kabar buruk itu tetiba menghampiri, lalu ia mendekati wajahku kemudian menghisap tiap jengkal kegembiraan dalam nadiku. Aku luluh lantah dibuatnya.

Sudah kupilin seribu satu sumpah serapah paling menyakitkan dan paling nista dalam lipatan memoriku, untuk nanti ku gelontorkan di depan wajahnya. Wajah sang penghianat yang tiap sudutnya sudah belasan tahun kuhapal di luar kepala.

Emosi memang selalu menang telak mengalahkan logika jika ia sedang berkuasa.

Hatiku bergejolak. Sambil menyeka air mata, kubuka kembali surat elektronik yang datang bersama kabar buruk tersebut. Tangan kananku sibuk menggeser dan meng-klik piranti tetikus, sementara tangan kiriku gemetar menahan emosi sembari memuntir-muntir gemas ujung daster batik berbahan katun yang menjadi pakaian kebangsaanku sehari-hari.

Foto demi foto kususuri sambil sesekali menyeka air mata. Sang pengirim surat elektronik misterius itu sepertinya secara diam-diam mengambil foto-foto tersebut dalam beberapa kesempatan dan waktu yang berbeda. Foto-foto itu adalah foto suamiku dengan seorang perempuan muda.

Selingkuh.

Setidaknya itu yang dapat kusimpulkan dari kemesraan yang terpancar oleh mereka berdua lewat deretan foto tersebut. Parade foto paling menyakitkan dalam hidupku.

Ku pelototi terus wajah perempuan sintal berambut panjang yang tersenyum genit dalam dekapan suamiku. Aku seperti masokis pemuja penderitaan. Mataku nanar terus-menerus menatapi foto itu satu persatu, kendati dada ini perih seperti dirobek sembilu.

Otakku bepikir keras, gerangan apa yang salah dalam biduk rumah tangga yang telah aku jalani belasan tahun dengannya. Pemicu apa yang mengakibatkan suamiku tega mengingkari janji setia kami berdua. Apakah ini jawaban dari malam-malam panjang penuh pertengkaran antara aku dan suami pada waktu-waktu tertentu?

Bak layar film yang diputar mundur, pikiranku seperti menampilkan kembali saat-saat kebersamaanku dengan suami, layaknya sebuah film bisu dengan aku dan suamiku sebagai pemeran utamanya.

Namun Margaret Atwood– sang penyair terkenal dari Kanada itu– pernah bilang, perang terjadi jika perkataan lisan gagal dipahami. Maka itu, satu-satunya jalan untuk meluruskan masalah rumit ini adalah mengkonfrontasikannya dengan suamiku.

Ya, akal sehatku mulai menguasai laju pikiranku kembali. Mungkinkah aku yang memberi celah pada orang ketiga sehingga dengan mudah ia masuk dan mengusik rumah tangga kami? Entahlah…

Untungnya Adinda, anak semata wayangku sedang tidak ada di rumah. Jadi Ia tidak perlu mesti menyaksikan bundanya remuk-redam bersimbah air mata kepedihan.

Suamiku pulang selepas hujan reda.

Udara malam yang dingin beserta semilir angin setelah hujan tak mampu menghantarkan kesejukan dalam hatiku.

Aku menunggunya di meja makan seperti hari-hari sebelumnya. Kelar dengan rutinitas mandi sorenya, suamiku tak lama menghampiri meja makan dan mulai duduk untuk menyantap makan malam bersama.

Aku mencoba berdamai dengan gejolak emosi sedapat mungkin. Kutanyakan kabarnya di kantor hari ini. Ia bertanya balik tentang keberadaan Adinda yang tak ia dapati sosoknya sore ini di rumah.

Kutunggu sampai perutnya terisi penuh. Lalu…

“Dari mana kamu dapat foto-foto ini?” Intonasi suaraku kubuat sedatar mungkin sedangkan wajahnya berubah pias seketika. Ujung jari telunjukku mendorong sebuah foto yang sengaja aku cetak, tadi.

“Tak penting darimana sumbernya, namun sebagai istri yang mencoba berprasangka baik, aku memberimu kesempatan untuk memberikan penjelasan”

Nada bicaraku setenang laut lepas, namun sedingin es dari Kutub Utara.

“Aku…sangat menyesal kamu mesti tahu dengan cara seperti ini. Sebenarnya sudah lama aku ingin membicarakannya” Tubuhnya bersandar dan ketegangannya perlahan mengendur. Ia menatapku lekat-lekat, sementara aku menatapnya balik dengan tatapan seakan ingin melubangi tempurung kepalanya.

“Sudahlah! Tak perlu berbelit-belit. Apa maksud pembicaraanmu?!”

Suaraku naik satu oktaf. Tak sabar rasanya mendengar preambul dari sebuah penjelasan yang sejak tadi siang kutunggu kepastiannya.

Ada jeda diantara kami, sejenak.

“Aku ingin kita berpisah”

Suamiku menunduk dan hatiku seperti tenggelam dalam bumi. Walau hati ini sudah kupersiapkan sedemikian rupa, nyatanya kalimat pendek tadi tetap mampu mengoyaknya. Aku terus mendaras doa-doa pada Tuhan untuk memberikanku kesabaran seluas samudera.

Tak berapa lama, kukuatkan diri untuk berdiri dan berjalan ke kamar. Kutarik koper mungil yang telah kusiapkan untuk skenario terburuk dalam hidupku, lalu meraih beberapa sisa benda milikku yang bakal kubawa besertaku.

“Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu mas, dan tunggu gugatan cerai dariku”

Sambil menyeret koper, langkahku mantap menuju pintu teras rumah. Ada secercah damai yang kurasa beserta jawab yang selama ini sebenarnya kucari.

Biarlah. Biar kami bercerai untuk mencari damai.

-end-

Kendaraan Umum Adalah Tempat yang Sangat Melankolis [Day 3]

Aku masih teringat menulis ini dengan sepenuh jiwa diliputi unsur melankoli yang teramat tinggi karena tulisan itu adalah sebuah ejawantah dari perasaan karut marut akibat merindukan Bapak yang telah bersemayam di haribaan-Nya.

Ada Kopaja di sana sebagai metafora. kendaraan kumal yang pernah ‘mewarnai’ hidupku beberapa tahun silam. Jakarta telah memaksa diriku menghabiskan lebih banyak waktu di atas sebuah kendaraan umum daripada di meja makan menyantap makan malam dengan keluarga. Dan di atas Kopaja pula pikiranku selalu terhempas ke pusara-pusara kenangan yang sebagian besar menyedihkan.

Apalagi ketika hujan tiba. Sisa air hujan yang menempel pada kaca jendelanya membentuk pola butir-butir fragmen duka. Seperti air mata yang begitu banyak tertumpah setiap mengingat Bapak. Lalu lewat kaca jendelanya yang basah ia membingkai sebuah cerita beragam anak manusia di luar sana. Kesedihan, perjuangan, perenungan, ketamakan, dunia yang terbalik dan segelintir asa yang meletup dari setiap adegan yang dilewatinya. Berada di dalam sebuah kendaraan umum membuat pikiranku dipaksa bekerja lebih keras untuk memetakan beragam manusia asing di atasnya.

Merenung tidak perlu ke gunung. Merenung bisa di lakukan di atas sebuah kendaraan jelek yang penuh dengan manusia berpeluh dengan impian yang luruh karena  menyimpan guratan cerita yang tidak selalu tentang cinta. Duka lara.

Fase hidupku yang bercengkrama dengan Kopaja sehari-hari memang telah usai [semoga]. Tapi sebenarnya ada banyak cerita yang tersimpan yang seperti mengalir keluar jika aku sedang menaikinya. Bis penuh kenangan. Bis yang menyimpan keringat dari ribuan manusia dengan berbagai asa dan do’a. Bis yang juga berjasa atau bahkan membuat celaka pemakainya. Bis yang selalu melaju menggurat aspal jalanan namun perlahan-lahan kuyakin bakal tergantikan.

Aku tidak merindukannya. Karena merindukannya sama dengan merindukan kesedihan. Namun sesekali mengecapnya lagi membuatku mampu kembali memastikan, bahwa kesedihan ini terasa pekat namun tak lekat.

Ia fana.

30 Hari Ngeblog Ramadhan edisi 2015/1436H [Day 1]

komitmen/ko·mit·men/n perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak:
– Kbbi-
Dua tahun lalu gw iseng membuat ‘challenge’ terdapat diri sendiri untuk menulis sesuatu di blog setiap hari selama bulan Ramadhan. Temanya bebas, dan tidak melulu berbau Ramadhan.Gw mem-postingnya di akun blog gw yang satu lagi. Akun yang isinya biasanya cerita jalan-jalan gw.

I did [only] nine posts out of 30 days, meh. Padahal temanya sudah bebas. Tapi [selalu ada tapi] susah juga mencari tema ya kalau setiap hari. Payah~

Ramadhan tahun ini Insya Allah gw ingin melakukannya lagi. Tapi sengaja kali ini bikinnya di sini. Di blog pribadi. Blog yang isinya gado-gado. Karena ada beberapa topik di kepala ini yang sudah ingin meledak untuk di rangkai-rangkai sebagai kalimat. Sayangnya beberapa topik tersebut agak-agak ‘sensitif’ – tapi gw merasa harus mengutarakan opini gw. Bukan untuk dibaca sesiapa, apalagi ke yang bersangkutan. Tidak ada unsur perdebatan di sini. Semua orang berhak mengutarakan opininya pada medianya masing-masing.Tidak ada yang salah, yang salah justru yang memaksakan pendapatnya BENAR, dan pendapat yang lain SALAH.

Dengan menulis juga membuat gw melatih komitmen kembali terhadap diri sendiri. Tapi gw merasa memang melanggar komitmen yang dibuat oleh diri sendiri adalah hal yang paling gampang. Bersusah payah untuk menepati komitmen yang dibuat oleh diri sendiri adalah hal yang sulit [buat gw].

The only one standing in your way, is YOU. Jarang sekali gw merasa ‘tidak enak’ dengan diri sendiri. Musuh di dalam diri gw muncul dalam bentuk kebiasaan buruk, bad habit. Kemalasan, kelalaian, selalu menunda, ketakutan etc, etc. Sehingga wajar saja kalau komitmen yang gw buat dengan diri gw sendiri dengan mudahnya gw patahkan.

Semoga dengan gw menulis ini bisa menjadi a self reminder, dan bisa terus melawan kebiasaan buruk itu. Kalau salah satu dari kebiasaan buruk itu muncul I just open this posting and [hopefully] realized that I have to fight the evil within my self.

-tabik

Who are we to judge?

Berangkat dari postingan salah satu penulis buku traveling lokal yang kira-kira begini:

Ada yang bilang kalau selfie dan photo-photo lalu sibuk posting ke sosial media, akan mengurangi makna perjalanan. Kamu setuju atau enggak?

Gw jadi tergelitik buat berkomentar (komen di postingan yang bersangkutan sih udah) secara panjang lebar soal hal ini. Soal kebiasaan orang untuk lebih membesarkan egonya sendiri dengan cara mengecilkan pendapat orang lain yang enggak sejalan, atau menganggap pilihannya adalah yang paling benar. Padahal hal-hal yang bersifat tidak eksak itu susah ngukurnya. Apalagi kalau cuma suatu kebiasaan.

Misalnya contohnya gini; Si A sangat suka masak dan masakannya itu emang enak. Dia jarang banget beli masakan udah jadi di warung padang atau restoran karena dia pikir dia toh bisa masak sendiri. Sampai sini si A sah-sah aja dengan pilihannya. Tapi ketika si A menganggap bahwa yang jarang masak dan ‘prefer’ beli masakan udah jadi itu lebih buruk dari dia, si A udah kesambet setan ‘EGO TRAP’. Sama juga kalau elo adalah tipikal traveler yang lebih milih menikmati perjalanan lo tanpa sibuk wara-wiri ke sosmed untuk mengunggah foto-foto lo selama lo di perjalanan. Sah banget sama pilihan lo. Tapi sah juga dong sama traveler lainnya yang hobinya emang ‘membanjiri’ sosmed dengan foto-foto jalan-jalannya, sepanjang foto-foto tersebut masih sopan dan dia enggak memutuskan untuk misalkan foto topless di puncak Rinjani, gitu. Karena dua tipe traveler ini menganggap cara mereka menikmati perjalanannya ya dengan cara seperti itu. Enggak ada yang salah dan enggak ada yang bener. Salah satu aja menyalahkan gaya yang lain, mereka udah masuk ke dalam EGO TRAP. Toh, kalo mau dirunutkan emang yang jalan-jalan ini pake duitnya sampeyan? enggak toh?

tumblr_mxgft6dFJL1sgb1vao1_500

‘Terjebak’ dalam ego itu bikin lo berfikir bahwa pilihan orang lain yang beda dari elo sama aja dengan meragukan kompetensi lo akan hal tersebut. Bahwa justru yang elo lihat orang lain itu sedang mengkritik lo dengan pilihan lo itu. Padahal sebenernya ya enggak gitu. Pilihan orang lain yang beda dengan pilihan lo pun bukan merupakan suatu acuan yang mana ketika elo ngerasa elo lebih senang dengan pilihan makanan sehat lo dan orang lain lebih milih makan nasi padang, elo ngerasa jadi superior dan men-judge orang lain itu lebih payah akan pilihannya. Who are we to judge? Umurpun cuma Tuhan yang tau.

Dan kalau mau disambung-sambungin sama judging-men judging ini, kadang gue juga heran sama orang yang termakan oleh ‘anggapan umum’. ‘Label sosial’ di masyarakat yang disematkan untuk kalangan tertentu tanpa melihat secara individu. Misalkan; Kalo orang gondrong tatoan itu biasanya brandal, anak jalanan, anak nakal. Atau kalau yang pakai jilbab itu ‘lebih beriman’, lebih baik, lebih bermoral. Label-label sosial yang disematkan masyarakat itu semacam jadi tolak ukur bahwa ketika mereka ternyata melihat seseorang yang berprilaku di luar dari koridor label yang mereka sematkan sebelumnya, mereka protes dengan membawa-bawa label yang seharusnya menempel pada oknum tersebut. Ya jatuhnya sih men-judge. Lalu apakah si oknum ini harus menanggalkan atribut tersebut karena berprilaku di luar koridor label? Padahal atribut itu adalah wajib dipakai sesuai dengan keyakinan yang dia anut. Sama juga dong nyuruh maling yang lagi sholat untuk gak usah sholat aja kalo masih jadi maling nyuruh ibu-ibu jilbaban yang hobi ngegosip untuk lepas jilbabnya karena mulutnya nyinyir dan jahat, nyuruh orang yang jahat sama orang miskin untuk berhenti ke gereja setiap minggu kalau masih suka jahat. Gw bukan juga untuk menjustifikasi perbuatan-perbuatan tak terpuji dari contoh-contoh oknum tersebut di atas, tapi alangkah baiknya kalo yang loe-loe bahas adalah perbuatan buruknya gimana caranya supaya mereka enggak berbuat buruk lagi, bukan malah menunjuk-nunjuk atribut wajib yang mereka pakai. Bahkan seorang pemuka agama juga enggak luput dari kesilapan. Kalau kita enggak mau langsung di judge cuma dari penampilan fisik aja, orang lain juga sama. Jangan merasa superior.